Kemerdekaan dalam Islam: Dari Penghambaan kepada Manusia Menuju Allah
Setiap 17 Agustus, Indonesia memperingati hari kemerdekaannya sebagai bentuk syukur atas perjuangan para pahlawan. Namun, bagi seorang Muslim, kemerdekaan memiliki makna yang lebih dalam, bebas dari penghambaan kepada sesama manusia dan hanya tunduk kepada Allah SWT. Ada ungkapan yang masyhur dari Rubai bin Amir Radhiyallahu‘anhu ketika berdialog dengan Rustum, pemimpin Persia:
“Allah mengutus kami untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan kepada Rabb para hamba.”
Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa seseorang bisa hidup di negeri yang merdeka, tetapi hatinya masih terbelenggu oleh harta, jabatan, popularitas, pujian, dan penilaian manusia. Kemerdekaan sejati adalah ketika hati tidak lagi bergantung kepada makhluk, tetapi hanya berharap kepada Allah.
Umrah dan Kemerdekaan Hati
Perjalanan umrah menjadi salah satu momentum untuk menemukan kembali makna kemerdekaan tersebut.
Saat mengenakan ihram, status, jabatan, dan kekayaan seakan dilepaskan. Di hadapan Ka'bah, semua berdiri sebagai hamba Allah. Kaya atau sederhana, terkenal atau tidak, semuanya sama-sama membutuhkan pertolongan-Nya.
Tawaf juga mengajarkan bahwa kehidupan seorang Muslim seharusnya memiliki satu pusat yaitu Allah SWT, bukan dunia, harta, jabatan, atau pengakuan manusia. Karena itu, umrah bukan hanya perjalanan menuju Baitullah, tetapi juga perjalanan untuk membebaskan hati dari berbagai keterikatan dunia dan kembali menjadikan Allah sebagai tujuan hidup.
Merdeka Bangsaku, Merdeka Hatiku
Kemerdekaan Indonesia sangat patut untuk disyukuri. Namun, mari jadikan momentum ini sebagai pengingat untuk memperjuangkan kemerdekaan yang lebih dalam yaitu:
- Merdeka dari kesombongan
- Merdeka dari ketergantungan kepada manusia
- Merdeka dari kecintaan berlebihan kepada dunia
- Merdeka untuk menjadi hamba Allah.
